Paket
Tur, pengalaman, dan homestay
Ingin berkunjung, ikut tur, mencoba memasak pecel semanggi, atau menginap di Kampoeng Semanggi? Lihat semuanya di halaman Paket.
Semanggi Kami
Semanggi (Marsilea crenata) adalah paku air kecil dengan empat anak daun yang mirip daun clover. Tanaman ini tumbuh di sawah yang tergenang, dan sejak turun-temurun keluarga di Kendung, Kelurahan Sememi, mengolahnya menjadi pecel semanggi Suroboyo.
Usaha ini dirintis ibu-ibu Kendung pada tahun 1960-an. Awalnya mereka membuat pecel dari daun krokot, tetapi krokot cepat layu, jadi mereka beralih ke semanggi: tanaman liar yang tumbuh di sela padi di sawah para petani.
Dulu, para penjual menggendong bakul berisi pecel semanggi dan berkeliling ke penjuru Surabaya. Sekarang giliran Anda yang datang: pilih menunya di sini, pesan lewat telepon atau WhatsApp, lalu ambil pesanan Anda langsung di toko, masih segar dari dapurnya.
Sejarah
Ibu-ibu Kendung mulai berjualan pecel semanggi keliling Surabaya. Sebelumnya mereka memakai daun krokot.
Bumbu semanggi mulai memakai ubi jalar, setelah sebelumnya gembili lalu singkong.
Pada Oktober 2017, Camat Benowo memberi nama Kendung sebagai Kampoeng Semanggi Surabaya.
Bergabung dengan Kampung Berseri Astra, yang mendukung produk olahan semanggi baru.
Pecel Semanggi Suroboyo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda nasional.
Warga Kami
Kampoeng Semanggi adalah warga RW 03 Kendung, Kelurahan Sememi. Lebih dari 120 perajin, perempuan maupun laki-laki, masih membuat pecel semanggi dan olahannya, meneruskan resep yang diwariskan sejak tahun 1960-an.
Sebagian berangkat sejak dini hari untuk berjualan di penjuru Surabaya. Yang lain melayani pembeli dari toko atau langsung dari rumah.
Paket
Ingin berkunjung, ikut tur, mencoba memasak pecel semanggi, atau menginap di Kampoeng Semanggi? Lihat semuanya di halaman Paket.