Sejarah
Sejarah Kampoeng Semanggi Surabaya
Dari ibu-ibu Kendung yang berjualan pecel semanggi keliling kota, menjadi kampung wisata edukasi dan kuliner di Jalan Kendung, Sememi, Benowo.
± 3 menit membaca










1960-an
Awal mula
Menurut cerita para orang tua, pada tahun 1960-an beberapa ibu warga Kendung, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, mulai merintis usaha berjualan semanggi.
Awalnya mereka mengolah dan menjual pecel dari daun krokot. Karena krokot tidak tahan lama, mereka beralih ke daun semanggi, yang sebenarnya tanaman liar: sejenis gulma di sawah padi para petani.
1980-an
Bumbu yang berubah
Menurut para sesepuh, bahan dasar bumbu semanggi juga berubah dari masa ke masa. Awalnya memakai gembili, lalu ketela pohon (singkong), dan sejak tahun 1980-an hingga sekarang memakai ketela rambat (ubi jalar).
2017
Menjadi Kampoeng Semanggi
Karena banyak pedagang semanggi Surabaya berasal dari Kelurahan Sememi, khususnya Kendung, pada Oktober 2017 Camat Benowo memberi nama Kendung sebagai Kampoeng Semanggi Surabaya.
Pemberian nama dilakukan dalam acara Cangkrukan Tiga Pilar di RT 07 RW 03, yang dihadiri pemerintah (Camat Benowo dan Lurah Sememi), Polsek Benowo, Koramil Benowo, serta ketua RW 03 dan para ketua RT. Setelah itu, kecamatan mengadakan pelatihan bagi pedagang semanggi dari Kecamatan Benowo yang diikuti 180 peserta.
2021
Kampung Berseri Astra
Mulai 3 September 2021, Kampoeng Semanggi menjadi kampung binaan Astra lewat program Kampung Berseri Astra, bekerja sama dengan Universitas Wijaya Putra Surabaya. Peresmiannya dihadiri Camat Benowo, Lurah Sememi, LPMK Sememi, Polsek, Koramil, dan pihak universitas, lalu dilanjutkan dengan pembagian 100 paket sembako untuk warga.
Program ini berjalan lewat empat pilar:
- Sehat: posyandu dan makanan tambahan bergizi untuk balita.
- Pendidikan: belajar bahasa Inggris untuk anak SD.
- Kreatif: rencana koperasi simpan pinjam untuk pelaku UMKM, uji coba bumbu pecel semanggi instan serta teh herbal telang dan semanggi kemasan, bazar dan pameran UKM, pelatihan kewirausahaan untuk karang taruna, dan pengolahan limbah organik menjadi eco enzyme.
- Lingkungan: pembuatan taman.
2022
Kampung wisata edukasi dan kuliner
Mahasiswa KKN dari Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Wijaya Putra ikut membangun kampung. Mahasiswa UWP menyerahkan situs web kampung kepada pengurus RW, yang kemudian dikelola Karang Taruna RW 03 Kendung. Penutupan KKN pada Minggu, 31 Juli 2022, sekaligus meresmikan spot foto karya para mahasiswa.
Tahun itu Kendung juga mengikuti penilaian SSC 2022, merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-77, dan menggelar rapat koordinasi bersama Camat Benowo, Lurah Sememi, LPMK Sememi, pengurus RW dan RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan Kader Surabaya Hebat untuk menyiapkan Kendung sebagai Kampoeng Wisata Edukasi dan Kuliner. Pada kesempatan itu juga diserahkan piagam penghargaan dari Wali Kota Surabaya kepada Ketua RT Teladan.
Pada Rabu, 8 November 2022, ibu-ibu PKK Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berkunjung ke Kampoeng Semanggi.
Dulu & sekarang
Berjualan ke kota
Jalan dan kendaraan saat itu belum memadai, jadi para pedagang tidak pulang-pergi setiap hari dari Kendung ke tengah kota. Seorang warga Petemon dengan baik hati meminjamkan rumahnya sebagai tempat singgah, sehingga mereka cukup pulang seminggu atau dua minggu sekali.
Seiring membaiknya jalan dan transportasi di Benowo, makin banyak ibu-ibu Kendung yang mengikuti jejak para perintis. Sejak dini hari mereka naik angkot ke Pasar Kupang, lalu menyebar ke wilayah jualan masing-masing: Surabaya Timur, Utara, dan Selatan, bahkan sampai Kabupaten Sidoarjo.
Kampoeng